jasa arsitek samarinda

Jasa Arsitek Samarinda Murah

CENTER POINT ARSITEK melayani jasa lengkap desain, bangun rumah atau renovasi rumah yang dikhususkan bagi personal maupun corporate yang merencanakan proyek menginginkan ketepatan waktu, desain yang kreatif, hasil pekerjaan yang berkualitas dan dengan harga bersaing.
Layanan lengkap mulai dari nol hingga serah terima kunci yang didukung oleh tenaga- tenaga arsitek, tukang, dan tenaga sipil bangunan berpengalaman dan telah puluhan tahun bekerja dan berkarya di bidang rancang bangun.
Memberikan solusi kepada anda bukan hanya desain jasa arsitektur,bongkar rumah, renovasi rumah atau sketsa pelaksanaan proyek, tetapi juga kami memiliki solusi rumah yang dapat di hemat, dengan sistem pelaksanaan bangunan yang fleksibel sesuai budget keuangan kebutuhan anda.
Kreatif desain hasil pekerjaan cepat, rapi adalah komitmen kami untuk mewujudkan rumah impian anda.

Kota Samarinda

Kota Samarinda adalah ibukota provinsi Kalimantan Timur, Indonesia, dan salah satu kota terbesar di Kalimantan. Samarinda memiliki luas permukaan 718 kilometer persegi, geografi daerah perbukitan dengan panjang mulai dari 10 sampai 200 meter di atas permukaan laut. [4] kota Samarinda dibagi oleh Sungai Mahakam dan menjadi pintu gerbang ke pedalaman Kalimantan Timur oleh sungai, tanah atau udara.

Samarinda yang dikenal sebagai kota seperti yang sekarang dulunya salah satu dari Kesultanan Kutai ing Martadipura. Pada abad ke-13 (tahun 1201-1300), sebelum ia tahu nama Samarinda, perkampungan warga yang ada di enam lokasi: pulau, karang asam, Karamumus (Coral Mumus) Luah Lilium (Lilium Loa) Sembuyutan (welcome) dan Mangkupelas (Mangkupalas). Penyebutan enam desa di atas dalam naskah Raja Kutai Salasilah surat yang ditulis oleh Khatib Muhammad Tahir 30 Rabiul Awal 1265 H (24 Februari 1849 AD). [5]

Pada tahun 1565, tingkat migrasi Batang Banyu Banjar Kalimantan daratan ke timur. Ketika kelompok Banjar Amuntai yang dipimpin oleh Kerajaan Kuripan Aria Manau (Hindu), pelopor dalam pembentukan Kerajaan Sadurangas (Pasir Balengkong) di Paser. Selanjutnya Banjar tersebar di wilayah Kerajaan Kutai, yang meliputi wilayah di tempat yang sekarang Samarinda.

Sejarah bermukimnya suku Banjar di Kalimantan Timur selama prerogatif kerajaan Banjar juga oleh tim peneliti dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (1976), menyatakan: “bermukimnya Banjar di daerah ini untuk pertama kalinya pada saat kerajaan Kutai Kertanegara tunduk pada otoritas Kerajaan Banjar. “[6] ini adalah apa yang ada di balik pembentukan bahasa Banjar sebagai bahasa dominan mayoritas orang Samarinda di kemudian hari, meskipun ada kelompok etnis banyak yang datang sebagai Bugis dan Jawa telah. [7]

Pada 1730, kelompok yang dipimpin Bugis Wajo La Mohang Daeng Mangkona bermigrasi ke Samarinda. Awalnya, mereka menetap di mulut Raja Kutai Coral Mumus tetapi dengan pertimbangan subjektif kondisi alam yang tidak menguntungkan, mereka memilih lokasi di Samarinda Seberang. [8] Dalam hal ini, lokasi di kota Samarinda sebelum kedatangan orang Bugis Wajo, pengaturan telah terbentuk sebagian besar ditanami tanah dan sawah umumnya terkonsentrasi di sepanjang tepi dan asam Terumbu karang Mumus. [9]

Mengenai asal-usul nama Samarinda, warga Samarinda menyebut tradisi lisan, asal nama Samarendah termotivasi oleh posisi yang sama dengan permukaan bawah dari Mahakam membentenginya kota daratan. Masa lalu, saat pasang air sungai, daerah pinggiran kota selalu tenggelam. Selain itu, bank-bank dari Mahakam mengalami bantalan / akumulasi dari banyak kali sejauh dua meter sebelum tumbuh.

Umar Dachlan mengungkapkan asal kata “lebih sama rendah” Banjar karena dataran rendah, tidak bergerak, tidak permukaan sungai di mana air tetap naik dan turun. Hal ini disebabkan ketika aliran referensi, maka istilah “sama tinggi” dan bukan “sama rendah”. Istilah “sama-lebih rendah” yang awalnya tetap, seperti nama lokasi yang terletak di tepi sungai Mahakam. Seiring waktu, nama berkembang menjadi sebuah pernyataan melodi: “Samarinda”

Samarinda memiliki perjalanan sejarah yang cukup panjang. Memang, Provinsi Kaltim baru berusia 58 tahun karena resmi berdiri 1 Januari 1957. Namun sebagai ibu kota, Samarinda telah ada sejak lama. Disepakati sejak pertengahan abad ke-17. Karena itu, wajar bila terdapat beberapa bangunan yang sudah berdiri dan digunakan jauh sebelum kemerdekaan.Berikut beberapa bangunan bersejarah di Samarinda,

Secara yuridis Kota Samarinda terbentuk berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 1959.

Dasar untuk menetapkan hari jadi kota Samarinda adalah kesimpulan tim penyusun sejarah yang dibentuk Pemerintah Daerah Kotamadya Samarinda berdasarkan asumsi dan prediksi atau estimasi 64 hari masa pelayaran dari Wajo menuju Samarinda, sejak penandatangan Perjanjian Bongaya 18 November 1667. Akhirnya, diperoleh hasil tanggal 21 Januari 1668, yang bertepatan pula dengan hari jadi Pemerintah Daerah Samarinda, 21 Januari 1960.[12]

Telah ditetapkan pada peraturan Daerah Kotamadya Daerah Tingkat II Samarinda Nomor: 1 tahun 1988 tanggal 21 Januari 1988, pasal 1 berbunyi, “Hari Jadi Kota Samarinda ditetapkan pada tanggal 21 Januari 1668 M, bertepatan dengan tanggal 5 Sya’ban 1078 Hijriyah”. Penetapan ini dilaksanakan bertepatan dengan peringatan hari jadi kota Samarinda ke-320 pada tanggal 21 Januari 1988.

Tanggal 21 Januari 1668 adalah hari yang diperkirakan dari satu versi sebagai awal kedatangan orang-orang suku Bugis Wajo yang kemudian mendirikan pemukiman di Samarinda Seberang. Meskipun demikian, sebelum rombongan Bugis Wajo datang ke Samarinda, sudah ada peradaban komunitas Kutai Kuno dan Banjar di wilayah Samarinda

Kelenteng Tian Yi Gong berdiri sejak 1905. Pembangunan berlangsung di bawah inisiasi dan perlindungan Opsir Belanda keturunan Tionghoa, Huang Qingquan. Dengan demikian, kelenteng dengan sembilan altar dewa dan satu altar utama (ditujukan ke langit) ini, sudah berusia 110 tahun,

bangunan bersejarah samarinda

Jasa Arsitek Samarinda

Masjid Raya Darussalam yang dahulu dinamakan Masjid Jamik (besar) dan didirikan tahun 1925 ini menampilkan gaya khas Turki, arsitektur ala Ottoman. Karakteristiknya ada pada kubah utama yang dikelilingi menara tinggi. Awalnya, masjid ini berada tepat di pinggir sungai. Tapi akhirnya bergeser ke arah “darat”, hingga kini berada di samping Jalan Yos Sudarso tentu dengan areal yang lebih luas. Setelah pemindahan itu pun bangunan Masjid Jamik menjadi lebih indah dengan ornamen lengkung (archi). Ditambah dengan kolam air mancur, dan sejumlah fasilitas tambahan.

Gedung Nasional dengan desain yang unik dan Tugu Kebangunan Nasional bertanda 20 Mei 1948 (peringatan 40 Tahun Kebangunan Nasional Indonesia).. Apabila dibangun bersamaan dengan Tugu Kebangunan Nasional di pelatarannya berarti gedung tersebut sudah ada sejak 1948 tiga tahun setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Namun dari salah satu sumber online disebutkan bangunan yang kini dikenal sebagai Gedung Nasional itu sebelumnya merupakan bagian dari kompleks pendidikan swasta non-Belanda bernama Neutrale Schools yang didirikan para tokoh Islam Kota Samarinda.

RS Dirgahayu didirikan dengan nama Balai Pengobatan “Keloearga Soetji” pada 4 Mei 1963. Balai pengobatan itu berada di areal Kompleks Keuskupan, Kampung Jawa. Perannya yang sangat vital dan signifikan, membuat balai pengobatan itu terus berkembang. Ditandai dengan pembangunan RS Bersalin “Keloearga Soetji Soember Tjinta Kasih” pada 26 Desember 1964 tetap di areal yang sama. Bisa ditebak kawasan pelayanan kesehatan dasar itulah yang kemudian menjadi RS Dirgahajoe. Perubahan nama resmi mulai 3 Mei 1971.

%d bloggers like this: